Wednesday, January 4, 2017

Mandi

Terlalu banyak yang ia pikirkan ketika ia mandi
Tangannya menyentuh keran namun pikirannya selalu ke mana-mana
Tentang bagaimana di kantor ia akan menjalani hari ini
Tentang warna bunga apa yang paling cocok untuk pertunangan temannya
Tentang alat musik yang akan dibeli pacarnya untuk mengusir bosan dan sepi
Atau tentang bagaimana cara meminta maaf kepadamu

Sepi, mungkin kamu merasa sepi
Ia hanya sementara, ia itu fana
Kamu hanya setitik di antara jutaan titik cahaya
Ia bagaikan nila dari sekian ratus warna

Air mengisinya, pikiran mengusiknya syahdu
Tentang berapa jauh ia berlari darimu
Tentang berapa sering ia membentengi diri darimu
Tentang bagaimana cara memasak yang baik untukmu
Tentang keyakinannya dan perbedaanmu
Dan tentang, tentu saja, bagaimana cara meminta maaf kepadamu

Kemudian pikirannya terhenti
Ia selesai mandi

Sunday, January 1, 2017

Sekali Menulis Akan Terus Menulis

Menulislah, maka kamu akan terus menulis
Interpretasi emosi, deskripsi tak berisi, bahkan kata-kata kosong penghibur hati
Tuliskanlah, aku tidak peduli bagaimana jadinya nanti
Apakah kumpulan aksara ini bisa menyentuh hatimu atau hanya mengerutkan dahimu
Karena kamu tak pernah tahu apakah tentang awan berarak atau langit-langit retak yang akan tertulis nantinya
Yang kamu tahu kamu hanya ingin menulis
Betapa pun buruknya tulisanmu
Betapa pun dangkalnya imajinasimu

Friday, November 18, 2016

I Just Want You To ...

I just want you to treat me special
Like, you mean it when you say “I love you”
Or when you come to see me when we happen to be in a same place
Or when you stop playing your PC game when I talk to you
Or when you choose to see me rather than hanging out with your friends
Or when you wait for me getting ready before we get off the car
Or when ...
Or when ...
Or when ...

I just want you to know.

Sunday, November 23, 2014

Pagar Berduri

Pagar berduri mana yang menurutmu benar-benar berduri?
Apakah pagar yang menjulang di depanmu ini?
Yang mencermati setiap langkahmu bahkan ketika kamu berdiri mematung
Yang di baliknya terdapat taman yang indah dan romantisme yang sulit kamu bayangkan
Atau yang dengan kokohnya berdiri, terlingkarkan merahnya mawar berduri yang menjadikannya pagar berduri?

Tidak ada pagar berduri yang benar-benar berduri, kamu tahu?

Apa yang kamu perlu tahu bukanlah
Keindahan
Romantisme
Melankolisme
Puisi yang bernyanyi
Di balik pagar berduri

Yang perlu kamu tahu hanyalah
Semua itu
Hanya milik
Sang mawar berduri
Yang menjadikannya pagar berduri

Sunday, October 26, 2014

1096

Mungkin aku akan terbangun dan mengingat hari esok adalah hari ke-1096. Mungkin memori tentang 1096 hari yang lalu akan bermain di sel-sel kecil kelabu milikku dan aku akan bergegas mencari puisi mana saja yang kamu tuliskan tentangku. Tentang kita. Mungkin aku akan bersiap-siap dan berdandan secantik mungkin untuk pergi bersama denganmu ke Taman Mini.

Mungkin.

Namun seandainya aku tidak terbangun atau alzheimer mendadak bersarang di sel-sel kecil kelabu milikku, izinkan aku (setidaknya) mencoba menulis dengan indah sekali saja.

1096 hari yang bukanlah waktu yang singkat, dan aku selalu berdoa kepada Tuhan (yang sampai saat ini mungkin masih kamu ragukan) agar 1096 hari menjadi 1690 hari, lalu 1960 hari, bahkan 10960 hari, lalu mengekal abadi.

Kamu bilang cinta berevolusi. Aku bilang cinta bersemi tanpa henti. Jika memang takdirku berpuisi, biarlah hati ini terus mencintai.

Selamat Hari Ke-1096 :)))))))))))

Love,

D
26-10-14

Tuesday, October 7, 2014

Paradoks itu Benar Ada

Mungkin sudah saatnya kamu menoleh ke belakang dan mereka-reka. Betapa besarnya jasa pengajar SD dan betapa sabarnya guru-guru SMP. Pada saat SD mungkin kamu hanya melihat kata-kata "hiperbol", "eufemisme", "paradoks", "totem pro parte" tertulis di buku Bahasa Indonesia yang tanpa kamu ketahui akan kerap memusingkanmu di SMP. Ah, aku lupa, tentu saja kamu tidak akan pusing, kamu terlalu cerdas.

Problem sesungguhnya justru baru dimulai selepas kamu meninggalkan bangku hangat SMP. Sekolah lanjutan terlalu dingin, kamu menemukan hiperbol dimana-mana, ironi di setiap perbincangan yang kamu sendiri lakoni, metafora tak terhingga, membuat hidupmu bagaikan alegori tak berujung yang penyair ciptakan.

Mungkin kamu selalu beranggapan bahwa Pandawa adalah pars pro toto dari segala kebajikan di muka bumi. Sebagai akibatnya, Kurawa harus menyandang predikat kontradiksinya. Ya, semudah itulah manusia menarik silogisme tanpa premis yang memadai. Hanya sekedar entimen menghakimi tanpa dasar yang berarti.

Kini aku ingin berbicara tentang paradoks. Betapa hidup ini bagaikan paradoks di mana kamu harus berpura-pura menyukainya. Betapa paradoks ini terlalu erat melingkarkan lengannya, merengkuh dan menghanyutkanmu ke dalam hidup yang "seharusnya". Meyakinkanmu bahwa monoton adalah setiap jawaban dari segala permasalahan. Membuatmu percaya bahwa rutinitas adalah kewajiban yang sesungguhnya. Namun cobalah kamu ingat-ingat, bukankah paradoks juga berkata sepi di tengah ramai? Bukankah miskin di tengah kaya juga paradoks? Bukankah kesenangan duniawi tanpa kebajikan hati dan kepuasan batin adalah kosong, dan menjadi paradoks terbesarmu saat ini?

Mungkin kesalahan terbesarmu adalah ketidaktahuanmu akan  apa yang ada di balik tawamu, di balik bibirmu yang tersenyum, dan di balik "kenormalan" yang kamu jalani setiap hari.

"Open your mind, take a look within
Are you happy in the world that you're living in?"
The Script (No Sound without Silence, 2014) -It's Not Right for You

Paradoks itu benar ada, sayang.

Friday, May 2, 2014

(2nd) Best Man in the World


I define it as the one who makes me fall in love everytime I see him. Again and again. Because in every single second we spend together, all he does is bringing the best in me. Always. 😊💑

Everytime we meet, the picture is complete.
Everytime we touch, the feeling is too much.



And after all, my man, you're my wonderwall.


Love, D.